Apa Itu PMII
Pengertian PMII
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau yang disingkat dengan PMII adalah sebuah organisasi kemahasiswaan yang berdiri pada tanggal 17 April tahun 1960 di Surabaya. Adapun ketua umum pertama PMII bernama Mahbub Djunaidi.
Latar Belakang Terbentuknya PMII
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) lahir karena menjadi suatu
kebutuhan dalam menjawab tantangan zaman. Berdirinya organisasi Pergerakan
Mahasiswa Islam Indonesia bermula dengan adanya hasrat kuat para
mahasiswa NU untuk mendirikan organisasi mahasiswa yang berideologi
Ahlusssunnah wal Jama’ah. Di bawah ini adalah beberapa hal yang dapat dikatakan
sebagai penyebab berdirinya PMII:
1. Carut marutnya situasi politik bangsa indonesia dalam kurun waktu
1950-1959.
2. Tidak menentunya sistem pemerintahan dan perundang-undangan yang ada.
4. Ketika PSI (Partai Sosialis Indonesia) dan Masyumi dibubarkan oleh Bung
Karno, Bung Karno meminta kepada NU untuk mendirikan oganisasi mahasiswa Islam
yang 'Indonesia' maka berdirilah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia
Hal-hal tersebut di atas menimbulkan kegelisahan dan keinginan yang kuat
dikalangan intelektual-intelektual muda NU untuk
mendirikan organisasi sendiri sebagai wahana penyaluran aspirasi dan
pengembangan potensi mahasiswa-mahsiswa yang berkultur NU.
Disamping itu juga ada hasrat yang kuat dari kalangan mahsiswa NU untuk
mendirikan organisasi mahasiswa yang berideologi Ahlussunnah Wal Jama’ah.
Dengan berasaskan Pancasila. ==Tujuan PMII sebagaimana termaktub dalam Anggaran
Dasar (AD PMII) BAB IV pasal 4 "Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang
bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab
dalam mengamalkan ilmunya serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan
Indonesia".
Organisasi-organisasi Pendahulu
Di Jakarta pada bulan Desember 1955, berdirilah Ikatan Mahasiswa
Nahdlatul Ulama (IMANU) yang dipelopori oleh Wa’il Harits Sugianto.Sedangkan di
Surakarta berdiri KMNU(Keluarga Mahasiswa Nahdhatul Ulama) yang dipelopori oleh
Mustahal Ahmad. Namun keberadaan kedua organisasi mahasiswa tersebut tidak
direstui bahkan ditentang oleh Pimpinan Pusat IPNU dan PBNU dengan alasan IPNU baru saja berdiri dua tahun
sebelumnya yakni tanggal 24 Februari 1954 di Semarang. IPNU punya kekhawatiran
jika IMANU dan KMNU akan memperlemah eksistensi IPNU. Gagasan pendirian
organisasi mahasiswa NU muncul kembali pada Muktamar II IPNU di Pekalongan (1-5
Januari 1957). Gagasan ini pun kembali ditentang karena dianggap akan menjadi
pesaing bagi IPNU. Sebagai langkah kompromis atas pertentangan tersebut, maka
pada muktamar III IPNU di Cirebon (27-31 Desember 1958) dibentuk Departemen
Perguruan Tinggi IPNU yang diketuai oleh Isma’il Makki (Yogyakarta). Namun
dalam perjalanannya antara IPNU dan Departemen PT-nya selalu terjadi
ketimpangan dalam pelaksanaan program organisasi. Hal ini disebabkan oleh
perbedaan cara pandang yang diterapkan oleh mahasiswa dan dengan pelajar yang
menjadi pimpinan pusat IPNU. Disamping itu para mahasiswa pun tidak bebas dalam
melakukan sikap politik karena selalu diawasi oleh PP IPNU.
Konferensi Besar IPNU
Oleh
karena itu gagasan legalisasi organisasi mahasiswa NU senantisa muncul dan
mencapai puncaknya pada konferensi besar (KONBES) IPNU I di Kaliurang pada
tanggal 14-17 Maret 1960. Dari forum ini kemudian kemudian muncul keputusan
perlunya mendirikan organisasi mahasiswa NU secara khusus di perguruan tinggi.
Selain merumuskan pendirian organ mahasiswa, KONBES Kaliurang juga menghasilkan
keputusan penunjukan tim perumus pendirian organisasi yang terdiri dari 13
tokoh mahasiswa NU. Mereka adalah:
1. A. Khalid Mawardi (Jakarta)
2. M. Said Budairy (Jakarta)
3. M. Sobich Ubaid (Jakarta)
4. Makmun Syukri (Bandung)
6. Ismail Makki (Yogyakarta)
7. Munsif Nakhrowi (Yogyakarta)
8. Nuril Huda Suaidi (Surakarta)
9. Laily Mansyur (Surakarta)
10. Abd. Wahhab Jaelani (Semarang)
11. Hizbulloh Huda (Surabaya)
12. M. Kholid Narbuko (Malang)
13. Ahmad Hussein (Makassar)
Keputusan
lainnya adalah tiga mahasiswa yaitu Hizbulloh Huda, M. Said Budairy, dan Makmun
Syukri untuk sowan ke Ketua Umum PBNU kala itu, KH. Idham Kholid.
Deklarasi
Pada
tanggal 14-16 April 1960 diadakan musyawarah mahasiswa NU yang bertempat di
Sekolah Mu’amalat NU Wonokromo, Surabaya. Peserta musyawarah adalah perwakilan mahasiswa NU dari
Jakarta, Bandung, Semarang,Surakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar, serta
perwakilan senat Perguruan Tinggi yang bernaung dibawah NU. Pada saat tu
diperdebatkan nama organisasi yang akan didirikan. Dari Yogyakarta mengusulkan nama Himpunan atau Perhimpunan Mahasiswa
Sunny. Dari Bandung dan Surakarta mengusulkan nama PMII. Selanjutnya nama PMII
yang menjadi kesepakatan. Namun kemudian kembali dipersoalkan kepanjangan dari
‘P’ pakah perhimpunan atau persatuan. Akhirnya disepakati huruf “P” merupakan
singkatan dari Pergerakan sehingga PMII menjadi “Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia”. Musyawarah juga menghasilkan susunan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah
Tangga organisasi serta memilih dan menetapkan sahabat Mahbub Djunaidi sebagai
ketua umum, M. Khalid Mawardi sebagai wakil ketua, dan M. Said Budairy sebagai
sekretaris umum. Ketiga orang tersebut diberi amanat dan wewenang untuk menyusun
kelengkapan kepengurusan PB PMII. Adapun PMII dideklarasikan secara resmi pada
tanggal 17 April 1960 masehi atau bertepatan dengan tanggal 17 Syawwal 1379
Hijriyah.
Pengurus PB PMII Dari Masa Ke Masa
1. Sahabat Mahbub Djunaedi (Periode 1960-1967)
Lahir di Jakarta 27 Juli 1933,
Ketua Umum PP.PMII tiga periode, yaitu periode 1960–1961, hasil Musyawarah
Mahasiswa Nahdliyin pada saat PMII pertama kali didirikan di Surabaya Jawa
Timur. Periode 1961-1963, Hasil Kongres I PMII di Tawangmangu Jawa Barat. Dan
Periode 1963-1967, hasil Kongres PMII II di Kaliurang Yogjakarta. Pada masa kepemimpinan
sahabat Mahbub Junaidi inilah PMII secara politis menjadi sangat populer di
dunia kemahasiswaan dan kepemudaan, sampai pada periode pertama sahabat Mahbub
Junaidi. Pernah menjabat sebagai Ketua Umum PWI pusat dan pimpinan Redaksi
Harian Duta Masyarakat (1965–1967), ketua dewan kehormatan PWI (1979 – 1983),
anggota DPR GR (1967-1971), Wakil Ketua PB NU (1984-1989), Wakil sekjen DPP
PPP, Anggota DPR/MPR RI (1971-1982), Pencetus “Khittah Plus”, Ketua Majlis
Pendidikan Soekarno dan anggota mustasyar PB NU (1989-1994).
Dalam sejarah republik ini, pernah muncul seorang tokoh aktivis
mahasiswa yang sangat multi talenta,bahkan hampir jarang ditemukan sosok yang
lengkap seperti dia saat ini, dia adalah Mahbub Junaidi. Mahbub adalah seorang
tokoh satrawan, jurnalis, organisatoris, agamawan dan politisi. Dalam hal
tulis-menulis Mahbub temasuk sangat piawai pada masanya
2. Sahabat Muhammad Zamroni (Periode 1967-1973)
Lahir di Kudus/Jepara Jawa
Tengah Tanggal 10 Agustus 1935. Riwayat Pendidikan: SD Muhammadiyah Kudus
(1948), SMP Negeri Kudus (1951), SGHA Yogjakarta (1955), IAIN Jurusan
Pendidikan, Jakarta (1969), Pesantren Bale Tengahan Kudus, Pesantren Jamsaren
Solo, Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah di Kudus dan Solo. Karier: Guru Ilmu Pasti
, Agama dan Olah Raga PGAN Magelang (1955-1958) Asisten Sastra Arab IAIN Syarif
Hidayatullah Ciputat Jakarta (1963-1965), Penata Madya Pegawai Departemen Agama
(1965-1967), Ketua Umum PP PMII dua periode yaitu periode 1967-1970, hasil
kongres PMII III di Malang Jawa Timur.
Dialah satu-satunya tokoh PMII yang terpilih tanpa kehadiran
yang bersangkutan di arena Kongres, karena pada saat itu dia masih berada di
Tokyo Jepang, dalam rangka operasi jari tangan kanan akibat kecalakaan mobil
sewaktu konsolidasi KAMI ke daerah Serang. Kemudian Periode 1970-1973, hasil
Kongres IV PMII di Makasar Ujungpandang Sulawesi Selatan. Pada masa
kepemimpinan sahabat Zamroni yang ke dua inilah PMII menyatakan diri
“Independen”, (dicetuskan di MUBES II di Murnajati Lawang Malang 1972).
Dialah penggagas Independensi PMII. Pada masa kepemimpinan sahabat Zamroni
inilah PMII berkembang sangat pesat terutama jika dilihat dari segi banyaknya
Cabang-cabang yang ada, tidak kurang dari 120 cabang yang hidup diseluruh
Indonesia. Suatu prestasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sangat sulit
terulang kembali hingga sekarang ini.
Menjadi Ketua Persidium KAMI Pusat (mulai pertama dibentuk
sampai bubar), Inilah tokoh PMII, Tokoh Mahasiswa, dan Tokoh Pemuda yang
berhasil menggerakkan Mahasiswa dan Pemuda di seluruh Indonesia berdemonstrasi
turun ke jalan menuntut dan berhasil merontokkan Rezim Orde Lama. Dialah Figur
Tokoh angkatan 66. Dialah tokoh demonstran yang berhasil menumbangkan suatu
rezim. Dialah tokoh paling populer dan terkenal pada masanya, setelah Soekarno.
Tokoh idola yang mampu menjadi “inspirator gerakan” mahasiswa dan pemuda di
seluruh nusantara. Dialah tokoh yang berani berdemonstrasi dan berdebat
berhadap-hadapan secara langsung dengan Presiden Soekarno.
Pernah menjadi anggota DPR GR/MPRS Fraksi Karya Pembangunan
(1967-1971), DPR/MPR RI Fraksi Partai NU (1971-1977), DPR/MPR RI Fraksi PPP
(1977-1983), Ketua Komisi I DPR RI (1983-1987), dan terakhir sebagai wakil
Ketua Komisi X DPR/MPR RI. penandatangan Deklarasi KNPI (1973), Ketua I DPP PPP
(periode Naro), dan wakil Sekjen PB NU (periode Idham Chalid).
Drs. HM. Zamroni bin Sarkowi, Berpulang ke Rahmatullah pada dini
hari pukul 03.00 WIB, Hari Senen Tanggal 5 Februari 1996, di RS Fatmawati
Jakarta Selatan karena sakit sesak pernapasan dan stroke yang diderita sejak
lama. Meninggalkan seorang Isteri, 3 (tiga) orang putra-putri dan 4 (empat)
orang cucu. Dimakamkan di Pemakaman Khusus Tanah Kusir Jakarta.
3. Sahabat Abduh Paddare ( Periode 1973-1977)
Lahir di Kampung Rambang Makasar
Sulawesi Selatan, Tanggal 27 Desember 1938. Ketua Umum PB. PMII periode
1973-1977, hasil Kongres V PMII di Ciloto Jawa Barat. Inilah satu-satunya
Kongres PMII yang tidak berhasil memilih Ketua Umum. Pemilihan pengurus
dilanjutkan di Wisma Angkatan Laut (di belakang Hotel Borobudur Jakarta) selama
dua malam, belum juga berhasil. Akhirnya acara pemilihan pengurus itu
dilanjutkan di Kantor PB NU. Sahabat Abduh terpilih sebagai ketua umum PB.PMII
untuk periode 1973-1977 setelah bersaing dengan sahabat Amdir Thahir.
Dil disebut sebagai Ketua Umum PB PMII yang paling dilematis
dalam perjalanan sejarah PMII, karena dia termasuk salah satu tokoh PMII yang
tidak setuju dengan “Independensi PMII” sehingga dia tidak mau hadir pada acara
MUBES II PMII di Murnajati Lawang Malang, yang melahirkan “Deklarasi
Independensi PMII”, tapi di sisi lain dia harus mengemban amanat “Independensi
PMII” sebagai amanat Kongres V PMII di Ciloto Jawa Barat.
Bersama-sama dengan Zamroni ia juga sebagai penandatangan
Deklarasi Berdirinya KNPI (1973), menggabungkan PMII menjadi anggota Kelompok
Cipayung (1974), menjadi anggota MPR (1977-1982), DPR/MPR RI (1983-1987),
Anggota MPR (1992-1997), Ketua Forum Komunikasi dan Silaturrahmi Alumni
(FOKSIKA) PMII (1988-1991), Wakil Sekjen DPP PPP (1994-1999) dan Pegawai Negeri
Sipil Departemen Agama RI. Alumnus Sarjana Muda Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan
Ampel Surabaya, dan Sarjana Lengkap di IAIN Jakarta.
4. Sahabat Ahmad Bagja (Periode 1977-1981)
Lahir
di Kuningan Jawa Barat 1945, pernah menjadi Ketua Umum Dewan Mahasiswa IKIP
Jakarta, dan Ketua Badan Koordinasi Senat-senat Mahasiswa IKIP se Indonesia
(1970), Ketua Umum PB PMII periode 1977-1981) Wakil Sekjen PB NU (1984-1989 dan
1989-1994), Sekjen PB NU pada periode kepengurusan Gus Dur yang kedua, tokoh
sentral yang paling berpengaruh dalam Kelompok Cipayung. Pada masanya Kelompok
Cipayung benar-benar menjadi kelompok sosial kontrol yang kritis dan berani.
Terpilih sebagai Ketua FOKSIKA menggantikan Abduh Paddare, setelah menang
bersaing dengan Burhanuddin Abdullah (Gubernur BI).
5. Sahabat Muhyiddin Arubusman (Periode 1981-1984)
Lahir
di Ende Flores Nusa Tenggara Timur, 24 April 1951 (cucu Raja Flores), Ketua
Umum PB PMII periode 1981-1985, pernah dua periode duduk sebagai ketua DPP
KNPI, yaitu periode 1984-1987 dan 1987-1990). Sekjen DPP AMII (angkatan muda
islam Indonesia). Ketua Majlis Pembina Nasional PB.PMII Periode 2005-2007
6. Sahabat Suryadharma Ali (Periode 1985-1988
Lahir di Jakarta, Ketua Umum PB PMII periode
1985-1988 dari hasil Kongres VIII PMII di Bandung Jawa Barat. Ia terpilih
setelah bersaing ketat dengan Iqbal Assegaf, dengan selisih sangat tipis, hanya
satu suara.Asisten Direktur Hero Supermarket, Wakil Sekjen Asosiasi pedagang,
Pengicer dan pertokoan Indonesia (AP3I), Dewan Pembina PP GP ANSOR, Anggota
DPR/MPR RI Fraksi PPP (1999-2004), Menteri Koperasi dan UKM (2004-2009),
Ketua Umum PPP Periode 2007-2011
7. Sahabat Muhammad Iqbal Assegaf (Periode 1988-1991)\
Lahir di Labuha Maluku pada 12
Oktober 1958, Riwayat Pendidikan: SD Islamiyah I Ternate (1971), Madrasah
Ibtidaiyah Al-Khairat (1972), SMP Negeri Ternate (1974), SMA Negeri Ternate
(1977), Fakultas Kedokteran Hewan IPB (1983), Institut Of Management IEU
Jakarta (1993). Pengalaman Organisasi: Ketua Umum OSIS SMP Negeri Ternate
(1972-1973), Ketua Umum OSIS SMP Negeri Ternate (1976-1977), Ketua Badan
Kerohanian Islam Keluarga Mahasiswa IPB Bogor (1979-1981), Sekjen Badan
Perwakilan Mahasiswa Fak. Kedokteran Hewan IPB Bogor (1982-1984), Sekjen Majlis
Permusyawaratan Mahasiswa IPB Bogor (1982-1984), Ketua Umum PMII Cabang Bogor
(1981-1983), Ketua Umum PB PMII periode 1988-1991, hasil Kongres IX PMII di
Asrama Haji Surabaya Jawa Timur, dia menduduki jabatan sebagai Ketua Umum PB
PMII setelah berhasil menang dengan suara mutlak dari saingannya Syaifullah
Maksum.
Setelah melepas jabatan sebagai Ketua Umum PB PMII, ia langsung
menjadi Ketua Dewan Pembina PB PMII pada periode berikutnya, 1991-1994. Ini
baru pertama kali terjadi dalam organisasi PMII. Wakil Ketua Majlis Pemuda
Indonesia (1987-1990), Anggota Pengurus Group Diskusi Nasional (GDN) Kosgoro
(1992-1994), Anggota Pokja Hankam DPP Golkar (1988-193). Ia adalah tokoh PMII
yang pernah menawarkan sesuatu yang dianggap baru dalam lingkungan dunia
kepemudaan di Indonesia melalui proses “debat langsung” para kandidat Ketua
Umum DPP KNPI tahun 1993.
Meski akhirnya ia dikhianati oleh kadernya sendiri, Ketua Umum
PB PMII saat itu (Ali Masykur Musa) dengan tidak mendukungnya dan meninggalkan
di tengah perjalanan, bahkan Ali Masykur berpaling mendukung calon dari
Kosgoro, Maulana Isman, padahal beberapa hari sebelumnya PB PMII secara resmi
mengumumkan secara terbuka kepada pers, bahwa PMII mencalonkan Iqbal Assegaf
sebagai calon Ketua Umum DPP KNPI, tetapi sebagai kader PMII yang memiliki
prinsip dan keyakinan tinggi, Iqbal jalan terus memperjuangkan nilai dan
keyakinannya itu.
Iqbal adalah Ketua Umum PB PMII yang relatif dianggap paling
sukses memimpin dan membesarkan PMII, setelah Mahbub dan Zamroni. Ia pernah
bersikap sangat tegas menolak gagasan dan saran sebagian tokoh dan kiai-kiai NU
yang menginginkan agar PMII kembali “Dependen dengan NU”. Sikap tegas itu ia
tunjukkan dengan mengeluarkan keputusan “Penegasan Cibogo”. Sehubungan dengan
itu, ia pernah megeluarkan statemen “PMII dengan rendah hati siap menerima
pendapat, gagasan, dan saran, bahkan kritik dari siapapun, tetapi keputusan
tetap berada di tangan PMII”. Itulah cermin dari sikap seorang pemimpin yang
independen.
Direktur Utama PT Shahanaz Swamandiri, ketua Tim Asistensi
Departemen Pemenangan Pemilu DPP Golkar dan wakil ketua POKJA
Depnaker-Rabithatul Ma’ahid Islamiah (RMI), Ketua Umum PP GP ANSOR,
menggantikan Slamet Effendy Yusuf. Ia terpilih sebagai Ketua Umum pada Kongres
GP ANSOR setelah bersaing ketat dengan Khoirul Anam (Ketua GP ANSOR Jawa Timur)
yang konon mendapat restu dan dukungan dari Gus Dur (Ketua umum PB NU) Ia
berhasil menembus peraturan yang mensyaratkan seorang calon ketua harus pernah
menjadi pengurus GP ANSOR setidaknya satu periode kepengurusan. Ia berhasil
meyakinkan peserta kongres untuk mengesampingkan peraturan tersebut, bahkan ia
sukses menafikan pengaruh Gus Dur di Arena Kongres tersebut. Drh. Muhammad
Iqbal Assegaf, meninggal pada hari… tanggal… 1999, kerena kecelakaan Mobil di
Jalan Tol…. Menuju kearah Tangjung Priok. Meninggalkan seorang isteri dan 3
orang anak.
8. Sahabat Masykur Musa (1991-1994)
Lahir di Tulung Agung Jawa Timur dan menjadi
Ketua Umum PB PMII periode 1991-1994, dari hasil Kongres X PMII di Asrama Haji
Pondok Gede Jakarta, dengan tema, “Demokrasi, Keadilan Sosial dan Pembangunan
Masyarakat Religius.” Ia terpilih setelah bersaing ketat dengan kandidat
lainnya yaitu Endin AJ Sofihara, Idrus Marham Putra dan Fajrul Falah (yang
terakhir ini gugur pada tahap pencalonan) Angota DPR / MPR RI dari Fraksi PKB,
Ketua Fraksi PKB DPR (1999-2004), anggota DPR / MPR RI (2004-2009), peraih
suara terbanyak untuk semua calon-calon anggota legeslatif tingkat pusat dari
daerah pemilihan Jawa Timur, Ketua DPP PKB (1999-2004) dan Wakil Ketua Umum DPP
PKB hasil Kongres PKB Semarang (2004-2009). Ketua GM Kosgoro (…), Anggota IV
BPK RI (2009-2014), dll.
9. Sahabat Muhaimin Iskandar (Periode 1994-1997)
Kongres XI PMII di Kutai Kertanegara
Kalimantan, dengan tema, “Moralitas, Pemberdayaan Masyarakat dan Integrasi
Nasional.” Karier politiknya: Anggota DPR/MPR RI Fraksi PKB (1999-2004), Ketua
Fraksi PKB DPR RI (1999-2004), Wakil Ketua DPR RI dari Fraksi PKB (menggantikan
posisi Dra. Khofifah Indarparawansa yang diangkat sebagai Mentri Negara
Pemberdayaan Perempuan pada masa Kabinet Presiden Abdurrahman Wahid) Wakil
Ketua DPR RI dari Fraksi PKB (1999-2004), Sekjen DPP PKB (1998-2003) pada masa
kepemimpinan Matori Abdul Jalil, Ketua DPP PKB (…), Sekjen DPP PKB lagi
menggantikan posisi Syaifullah Yusuf yang diangkat sebagai Menteri Pemberdayaan
Daerah Tertinggal pada Kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ketua Umum
DPP PKB hasil Muktamar PKB di Semarang Jawa Tengah (2005-2010).
10. Sahabat Syaiful Bahri Ansori (Periode 1997-2000)
Lahir di Jember pada 15 November 1966, menjadi
Ketua Umum PB PMII periode 1997-2000, hasil Kongres XII PMII di Asrama Haji
Sukolilo Surabaya Jawa Timur, 1-5 Desember 1997, dengan tema, “Revitalisasi
Tradisi, Pengokohan Demokrasi dan Pemandirian Masyarakat Menghadapai Tantangan
Global.” Pada Kongres kali inilah mulai muncul gejala anarkhi dari peserta
kongres, seperti baku hantam dan saling lempar kursi. Ia terpilih sebagai Ketua
Umum PB PMII setelah bersaing dengan sahabat Chatibul Umam Wirano, Munawar Fuad
Noeh.
11. Sahabat Nusron Wahid (Periode 2000-2003)
12. Sahabat A Malik Haramain (Periode 2003-2005)
Lahir di Probolinggo Jawa Timur,
3 Mei 1972. Pendidikan dasar di tempuh di MI Ihya’ul Islam, MTs Roudlotut
Tholibin di Probolinggo. Sambil nyantri di PP. Roudlotut Tholibin, melanjutkan
pendidikan di SMAN 3 Probolinggo. Kemudian melanjutkan studi ke Universitas
Merdeka Malang (Unmer) Lulus tahun 1977, selama menjadi mahasiswa ia juga
nyantri di PP. Miftahul Huda Gading Malang. Studi program S2 di UI Jakarta dan
lulus tahun 2003.
Karier Organisasi dimulai sebagai Ketua Departemen Penalaran
Senat Mahasiswa Fisipol Unmer Malang. Aktif di PMII di mulai sejak tahun 1993
sebagai Ketua Komisariat PMII Merdeka Malang, Ketua Bidang II PMII Cabang Kota
Malang (1995), Ketua Umum PMII Cabang Kota Malang (1996), Wakil Sekjen PB PMII
(1997-2000),Ketua Umum PB PMII Periode 2003-2005, hasil Kongres XIV PMII di
Kutai Kertanegara Kalimantan Timur.
Selain itu ia juga pernah aktif dan dipercaya menjadi
koordinator kajian di Pusat Studi dan Pengembangan Kebudayaan (PUSPeK) Averroes
(Averroes Community). Buku-buku yang pernah ditulis antara lain: Mengawal
Transisi, Refleksi atas Pemantauan Pemilu 1999 (Jakarta 1999), PMII di Singpang
Jalan, Pustaka Pelajar (Yogjakarta 1999) Menjadi Kontributor tulisan:
Pemikiran-pemikiran Revolusioner Antonio Gramci Be(rtanya)lajar lagi pada
kesalahan Karl Marx (Averroes Press dan Pustaka Pelajar 2000). Politik
Indonesia dalam Masa Transisi (Upaya Menuju Sistem Politik Demokratis).
Oposisi, Upaya Mengawal Transisi, Aktivisme Politik Islam dalam Babakan Politik
Indonesia. Gus Dus, Militer dan Politik (LKiS Yogjakarta). Neraca Gus Dur di
Panggung Kekuasaan, Lakpesdam (Jakarta 2002), Sketsa Pergerakan:
Kritik-Otokritik Gerakan PMII, (Fajar Pustaka 2003), Saat ini ia menjadi staf
ahli Komisi I DPR RI dan menjadi staf pengajar di Pascasarjana UI untuk program
studi Kajian Timur Tengah dan Islam.
Buku-buku yang pernah diterbitkan PB PMII pada periode ini
antara lain: PMII dalam Simpul-simpul Sejarah Perjuangan; PMII 1960-1985
(Fauzan Alfas) Untukmu Satu Tanah Airku, Untukmu Satu Keyakinanku; Menuju
Karifan Bernegara; Kilas Balik Perjuangan Zamroni. Pada periode inilah PB PMII
mempunyai kantor sekretariat sendiri secara permanen.
13. Sahabat Herry Azzumi (Periode 2005-2008)
Hery Haryanto Azumi adalah salah
satu tokoh muda NU yang saat ini telah cukup dikenal di pelbagai. Karier
organisasi yang terbilang lancar dan gagasannya tentang kebangsaan dan
kerakyatan yang cukup luas, membuat pemuda kelahiran Trenggalek, 29 April 1977
ini sering tampil di media massa, baik cetak maupun elektronik. Berbagai macam
kegiatan baik level nasional dan internasional pernah dia ikuti.
Salah satu kelebihan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan
Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII), adalah kejelian dan kepekaannya dalam
membaca perkembangan situasi nasional dan isu-isu luar negeri. Dengan
kegemarannya dalam membaca dan jaringan yang luas, mantan Ketua Umum Cabang
PMII Ciputat ini selalu bisa memberikan penjelasan detail soal isu-isu terbaru
dari berbagai belahan dunia.
Memang demikianlah ajaran yang diterimanya dari keluarga dan
pondok pesantren Denanyar Jombang, tempat dia belajar dan mendalami ilmu agama
dan ketrampilan hidup. Hery menuturkan, orang tuanya sengaja memboyongnya ke
pondok pesantren yang didirikan oleh tokoh NU KH Bisri Syansuri tersebut untuk
nyantri melanjutkan pendidikan formal pada Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Mambaul
Maarif. Tepatnya, pada tahun 1995, Hery berhasil menamatkan pendidikan
formalnya tersebut dengan nilai memuaskan.
Orang tua ternyata memberikan restu kepadanya. Dia pun akhirnya
berangkat ke Jakarta dan diterima pada Fakultas Syariah UIN Jakarta, di
perguruan tinggi Islam terbesar di Indonesia tersebut. Kesempatan menjadi
mahasiswa dimanfaatkan Hery dengan baik untuk mengembangkan diri. Dia pun
memilih PMII sebagai wadah menempa diri dan mengembangkan bakat berorganisasi
yang dimilikinya sejak kecil. Hari demi hari ruang pergaulannya semakin luas.
Seiring dengan itu, bakat kepemimpinannya pun semakin tampak. Dia terpilih
sebagai Ketua Cabang PMII Ciputat untuk masa khidmat 1998-1999.
Kongres PMII di Bogor pada 2005 adalah momen yang bersejarah
bagi hidupnya. Mendapat mandat dari PMII Cabang Ciputat, dia mencalonkan diri
sebagai Ketua Umum PB PMII. Alhasil, dengan dorongan para alumni PMII Ciputat,
dia berhasil mengungguli kandidat-kandidat Ketua Umum PMII lain dengan suara
mayoritas.
Jabatan Ketua Umum PMII adalah hal yang luar biasa baginya,
karena sebelumnya dia tak pernah menduga bisa menjadi orang nomor satu di
organisasi yang didirikan oleh Mahbub Djunaidi dkk itu. “Melihat panasnya
persaingan, terpilihnya saya adalah hal yang luar biasa,” jelas pemuda hitam
manis bertubuh tambun ini.
Selain menjadi aktivis PMII, pengalaman lain yang pernah
didapatkannya, adalah kegiatan berkunjung ke luar negeri. Diantara program
kunjungan ke luar negeri yang pernah diikutinya, antara lain, Program
International untuk Ethnisitas, Multikulturalisme, dan Security Issues yang
diselenggarakan oleh Departmen Luar Negeri Amerika Serikat di 10 negara Bagian
AS (Washington D.C., Maryland, Virginia, Florida, Ohio, Georgia, California,
San Francisco, Seattle, New York ), tahun 2003.
Hery juga aktif mengikuti acara diskusi dan dialog di dalam dan
luar negeri. Diantaranya menjadi pembicara dalam Dialog antar agama, yang
diselenggarakan oleh Acron State University di (Ohio 2003), Lecture pada
Frederich Von Hayek’s Thoughts yang diselenggarakan oleh Indonesian CSIS
bekerja sama dengan Australian Institute of Liberal Studies dan Swedish Hayek
Institute (2002), ASEAN People’s Assembly II, diselenggarakan ASEAN ISIS
(Denpasar, 2002) dan Kursus ketrampilan Presentasi and penulisan, granted oleh
The British Council (2001).
Di bidang pengalaman kerja, Hery pernah menjadi Directur The
Kemang Institute for Research and Analysis (2003-2005), Direktur Riset Yayasan
Sentral Indonesia Semesta (2000-2002), Departemen Politik dan Demokrasi,
Institute of Social Institutions Studies (ISIS), (sejak 2000). Dia juga punya
segudang pengalaman dalam bidang advokasi dan mediasi, di antaranya mediasi
konflik sosial di Bekasi dan Tangerang pada tahun 1999 hingga 2004, Wasekjen
PBNU 2015-2020, Sekretaris Jenderal Majelis Dzikir Hubbul Wathan (….), Dewan Pakar Perhimpunan Perhimpunan Indonesia-Tionghoa 2017-2021
14. Sahabat Muhamad Rodli Kaelani (Periode 2008-2011)
sapaan Odie lahir
pada tanggal 1 April 1978 disebuah rumah sakit “kelas kecil” di Jakarta.
Terlahir dalam pola hidup kaum urban kota Jakarta namun tetap dalam kultur dan
tradisi sosial keagamaan yang terpelihara. Ayahnya Muhammad Murthado H.M Noer
yang berasal dari etnis “Betawi NU” adalah seorang pegawai negeri sipil,
sedangkan ibunya, Nona Albugis, yang percampuran dari darah etnis bugis dan
etnis tionghoa (Komunitas Tionghoa Campa sejak pengembangan Islam di wilayah timur
Indonesia) yang membumi di Ternate dan Manado.
Semasa kuliah di Manado ia juga mendapat penguatan pengetahuan
agama dari kultur dan tradisi keagamaan Alkhairaat yang menjadi pattern keagamaan
keluarga ibunya dan sebagian besar kaum muslimin di wilayah timur Indonesia,
karena Alkhairaat yang didirikan oleh almarhum Al Habib Salim Aljufri (Guru
Tua), adalah salah satu ormas Islam berorientasi dakwah dan pendidikan terbesar
di wilayah timur Indonesia yang tersambung secara emosional dan idilogis dengan
kultur Ahlussunah Wal Jamaah (NU). Bahkan ia pernah
mengabdikan diri selama dua tahun sebagai salah satu pengajar di Ponpes
Alkhairaat Manado tersebut.
Saat diperantauan inilah ia mengenal, berinterkasi dengan
komunitas PMII, hingga akhirnya menempa diri dan berproses dalam organisasi
ini. Diakuinya, sesungguhnya PMII lah yang menjadi titik balik dalam kehidupan
dirinya. Mengubah gaya hidup “anak kota” yang sebelumnya melekat pada dirinya,
pola hidup konsumeristik dan hedonistik, bahkan cara ia melihat realitas dan
kesulitan kehidupan masyarakat. Saat menjadi kader PMII semua berubah total,
sampai-sampai ia seringkali mengiklaskan kelebihan materi yang dimilikinya
dalam pergumulannya di PMII dan interaksi dengan masyarakat, tak ketinggalan
kuliahpun terkadang dikesampingkan. Namun ia nikmati dan rasakan kepuasan batin
dan jiwa dengan pilihan pergumulannya itu.
Pengalamannya di PMII berawal sebagai kader rayon Fakultas
Sastra pada pertengahan 1998, kemudian menjadi sekretaris rayon lalu ketua
rayon. Setelah Konfercab PMII Manado pada akhir tahun 1999 ia dipercayakan oleh
formatur dan sahabat-sahabatnya menjadi Sekretaris Umum PC PMII Manado hingga
pada Konfercab berikutnya ia dipilih dan ditetapkan menjadi Ketua Umum PC PMII
Manado masa khidmat 2001 – 2002. Sekaligus semasa kepemimpinannya memperkuat
karakter gerakan intelektual dan advokasi sosial yang melekat pada kultur PMII
Manado, bahkan hingga saat ini.
Selain itu jelang akhir kepemimpinan struktural PMII-nya, ia
juga berinteraksi dan bergelut dengan teman-teman dan senior-seniornya di dunia
NGOs dan penguatan masyarakat. Aktif dan pernah menjadi Kepala Divisi
Pluralisme dan Advokasi pada Yayasan SERAT Manado (2001 – 2005), mendirikan dan
menjadi salah satu Dewan Pendiri Pusat Belajar Lintas Komunitas (PuBLiKa) Sulawesi
Utara (2000 – hingga sekarang), serta Anggota Dewan Pendiri South East Asia
Committee on Advocacy (SEACA) yang berkedudukan di Filipina (2004 – hingga
sekarang). Inilah pula yang memperkuat kultur gerakan dan advokasi sosial pada
diri sebagai bagian dari komitmen keberpihakannya.
Pernah juga mengajar di Ponpes Putri Assalaam Manado dan
bergelut dengan dunia broadcasting dengan menjadi Presenter pada acara talk
show televisi regional selama setahun. Serta senantiasa menjadi trainer dan
fasilitator pada kegiatan-kegiatan penguatan masyarakat (CO dan CD) diwilayah
Gorontalo, Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Apalagi pada tahun 2004, Rodli
pernah merasakan fellowship pada Program Internship of Leadership and Social
Movement di Institute for Popular Democracy of Phillpinnes.
Seiring dengan dedikasinya terhadap PMII, sahabat-sahabatnya
didaerah dan regional Indonesia timur merekomendasikannya untuk berkiprah di
jajaran Pengurus Besar PMII hingga setelah Kongres XV PMII di Bogor, ia
diangkat dan dipercayakan menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjen) PB PMII.
Dedikasi ini juga lah yang membawanya “pulang kampung” dan berdomisili kembali
di Jakarta, mengabdi dan berkiprah di PB PMII. Tidak berhenti di sekjend,
kongres XVI PMII di Batam dia terpilih menjadi ketua umum PMII 2008-2011.
Karya buku yang pernah ditulis-baik sendiri maupun bersama
teman-temannya antara lain; “Menuju Perubahan Sulawesi Utara; Refleksi, Aksi
dan Proyeksi Gerakan PMII” (2001) serta “Melibatkan Partisipasi Masyarakat
Dalam Perumusan Kebijakan” (2004). “Mengawal Gagasan, Mendorong Sentrum
Gerakan” (2008).
Hingga saat ini, Rodli selalu diundang pada kegiatan-kegiatan
Southeast Asian Committee on Advocacy (SEACA) di negara-negara ASEAN yang
berkedudukan di Filipinan,. Selain itu juga aktif menjadi narasumber, trainer
maupun fasilitator di berbagai forum, seminar, lokakarya dan pelatihan. Saat
ini Rodli juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jendral DPP PAN (2011 – 2016),
juga Ketua Umum PANDU Indonesia, yang merupakan sayap pemuda PAN. Tercatat juga
sebagai Sekretaris Pembina Dewan Pengurus Pusat Persatuan Wirausaha Muda
Indonesia (DPP PWMI), dan salah satu Ketua Dewan Pimpinan Pusat Generasi
Penerus Perjuangan Merah Putih (DPP GPPMP).
Rodli juga terlibat dalam beberapa perusahaan yang dibangun
bersama beberapa senior dan kawan-kawannya, seperti PT Karya Bangkit Bersama
dan PT OPSI-B, dan juga adalah Tenaga Ahli F-PAN DPR RI periode 2014-2019, dan
mengajar dibeberapa perguruan tinggi. Rodli beristrikan Susilowati Moko, SHI,
seorang aparatur sipil negara Kementerian Agama dan memiliki seorang putri
bernama Annisa Alifiah Restu Putri Kaelani.
15. Sahabat Addin Jauharuddin (Periode 2011-2014)
Laki-laki
kelahiran Cirebon, saat ini menjabat sebagai salah satu komisaris independen
BUMN yaitu PT. Garam.
16. Sahabat Aminnudin Ma'ruf (Periode 2014-2017)
Laki-laki kelahiran Karawang,
Jawa Barat ini menyelesaikan gelar sarjananya di Universitas Negeri Jakarta .
Aminudin Ma'ruf terpilih menjadi Ketua umum PB PMII dalam kongres PMII ke-18
yang berlangsung 30 Mei sampai 10 Juni 2014 di GOR Kotabaru, Jambi.
Dalam kepemimpinannya, Aminuddin berhasil membuat terobosan
dalam hal kaderisasi secara massive dan nasional. Adanya Pelatihan Kader
Nasional dan berbagai acara seminar-lokakarya strategis kader menjadi
konsentrasi strategis PMII dalam mencetak kader yang dapat duduk di berbagai
macam posisi sektor strategis dan profesional.
17. Sahabat Agus Herlambang (Periode 2017-2019)
Lahir pada tanggal 17 Juni 1988
di sebuah daerah yang terkenal dengan sebutan kota Mangga, Indramayu. Putra
pertama dari pasangan Guru Agama di kampung sehingga sedikit banyak Sahabat
Agus sejak dini tumbuh dengan berinteraksi secara langsung dalam dunia
pendidikan agama.
Setelah lulus SD, Sahabat Agus melanjutkan pendidikannya di
pesantren Raudlatut Thalibin Lengkong Kuningan sembari menempuh pendidikan
formalnya di MTS Yaspika Kuningan. Lulus MTS kemudian meneruskan proses
pembelajaran formalnya pada MAN Cigugur Kuningan dan pendidikan pesantrennya di
Pondok Pesantren Al-Ma’mur Cipondok Kadugede.
Kecerdasannya yang memang sudah terlihat sejak usia dini,
membawa sahabat Agus menjadi siswa berprestasi yang tak pernah lepas dari
posisi tiga (3) besar rangking teratas di semua level pendidikannya. Sehingga
sahabat Agus mendapatkan undangan PMDK di Institute Teknologi Bandung (ITB),
jurusan Seni rupa dari jalur Beasiswa Santri Berprestasi pada tahun 2006
dikarenakan memperoleh nilai UAN yang tinggi.
Sahabat Agus memilih melanjutkan studi S1nya di Sastra Inggris
Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, satu-satunya
Perguruan Tinggi di Indonesia yang menggunakan nama Pesantren. Pada tahun 2010
Sahabat Agus lulus tepat waktu dengan uji thesis berjudul Afro-American
Struggle for Spelling Bee Competition, berisi tentang kisah perjuangan seorang
anak afro-amerika diatas mimbar bergengsi orang-orang kulit putih. Minatnya
terhadap sastra, kemudian membuatnya melanjutkan studi S2 Di Jurusan Magister
Ilmu Susastra Universitas Indonesia (UI) dan diterima pada tahun 2012.
Pada tahun yang sama (2012) sahabat Agus mulai terlibat dalam
program Community Empowerment of People Againts Tuberculosis, sebuah pilot
project pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan, yang disponsori oleh USAID
dengan Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama dan Kementrian kesehatan RI, berperan
sebagai koordinator Program di Jakarta Utara hingga awal 2017 dalam pengentasan
TBC di Indonesia. Setelah bersentuhan langsung melakukan advokasi masyarakat di
Jakarta Utara, pada tahun 2016 Sahabat Agus memutuskan fokus menggeluti bidang
komunikasi publik dengan mengambil studi S2 di Universitas Mercubuana, di
Jurusan Magister Komunikasi yang fokus pada Public Relation, Mass media dan
Komunikasi Politik karena ketertarikannya dalam keterlibatan publik dalam
menentukan kebijakan pemerintah yang dia dapat ketika melakukan empowering di
masyarakat urban di Jakarta Utara.
Agus Mulyono Herlambang atau biasa dipanggil Agus Herlambang
adalah seorang aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sejati,
dimana tumbuh kembangnya selalu mengenyam pendidikan pesantren, dan
berkecimpung di berbagai organisasi, baik yang nota bene organisasi PMII maupun
lembaga lainnya sebagai rekam jejak kembang karakter ke PMII-annya, berikut
tambahan aktivitas organisasi yang pernah di geluti: Aktif MAPABA (Masa
Penerimaan Anggota Baru) PMII 2006, Ketua rayon pertama fakultas bahasa dan
sastra inggris Unipdu Jombang 2007, Salah satu penggagas Teater SATU FBS tahun
2007, Wakil ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Fakultas 2007-2008, Pengurus
Komisariat PMII Umar Tamin Unipdu Koordinator Penerbitan dan penelitian dengan
melahirkan buletin Change 2008-2009, Sekjend BEM Unive Unipdu Jombang
2010-2011, Penggagas FGD (Focus Group Discussion) Surau Sahabat di Komisariat
PMII Umar Tamim Unipdu Jombang 2010-2011, Pengurus Cabang PMII Jombang di
koordinator Penerbitan dan Penelitian dengan menerbitkan Buletin MOVE 2010-2011,
Penggagas FIKRAH INSTITUE 2010-2011, Pengajar aktif bahasa inggris di forum
Pengurus Besar (PB) PMII 2011-2013, Koordinator Program Community Empowerment
of People Againts Tuberculosis wilayah Jakarta Utara 2012, Ketua Bidang
Hubungan Internasional dan Jaringan Luar Negeri PB PMII 2014-2016, Terpilih
menjadi Ketua Umum PB PMII 2017-2019 saat Kongres di Palu, Sulawesi Tengah
(Sulteng).
Di Sisi lain, karena Sahabat Agus terbiasa dididik mandiri
secara ekonomi oleh orang tuanya, Agus bersama sahabat-sahabatnya menghidupkan
rayon dari hasil penjualan tiket pementasan Teater SATU, menghidupkan
komisariat dengan berjualan buku di kampus, menghidupkan forum diskusi Cabang
juga dengan jualan buku dan jualan kopi. Saat ini, selain aktif di kegiatan
kemasyarakatan, kuliah dan organisasi, Agus juga memiliki usaha mandiri yang
bergerak di bidang limbah besi tua yang dia rintis bersama Istrinya sejak 2014
di CV Karunia Baja. Prinsip yang slalu dipegangnya hingga saat ini adalah
hidupkan organisasi, bukan hidup dari organisasi.
Independensi PMII
Pada awal berdirinya PMII sepenuhnya berada di
bawah naungan NU. PMII terikat dengan segala garis kebijaksanaan partai
induknya, NU. PMII merupakan perpanjangan tangan NU, baik secara struktural
maupun fungsional. Selanjutnya sejak dasawarsa 70-an, ketika rezim neo-fasis
Orde Baru mulai mengkerdilkan fungsi partai politik, sekaligus juga
penyederhanaan partai politik secara kuantitas, dan issue back to campus serta
organisasi- organisasi profesi kepemudaan mulai diperkenalkan melalui kebijakan
NKK/BKK, maka PMII menuntut adanya pemikiran realistis. 14 Juli 1972 melalui
Mubes ke-III di Murnajati, PMII mencanangkan independensi, terlepas dari
organisasi manapun (terkenal dengan Deklarasi Murnajati). Kemudian pada kongres
tahun 1973 di Ciloto, Jawa Barat, diwujudkanlah Manifest Independensi PMII.
Namun, betapapun PMII mandiri, ideologi PMII tidak lepas dari paham Ahlussunnah
wal Jamaah yang merupakan ciri khas NU. Ini berarti secara kultural- ideologis,
PMII dengan NU tidak bisa dilepaskan. Ahlussunnah wal Jamaah merupakan benang
merah antara PMII dengan NU. Dengan Aswaja PMII membedakan diri dengan
organisasi lain. Keterpisahan PMII dari NU pada perkembangan terakhir ini lebih
tampak hanya secara organisatoris formal saja. Sebab kenyataannya, keterpautan
moral, kesamaan background, pada hakikat keduanya susah untuk direnggangkan.
Makna Filosofis
Dari namanya PMII disusun dari
empat kata yaitu “Pergerakan”, “Mahasiswa”, “Islam”, dan “Indonesia”. Makna
“Pergerakan” yang dikandung dalam PMII adalah dinamika dari hamba (makhluk)
yang senantiasa bergerak menuju tujuan idealnya memberikan kontribusi positif
pada alam sekitarnya. “Pergerakan” dalam hubungannya dengan organisasi
mahasiswa menuntut upaya sadar untuk membina dan mengembangkan potensi
ketuhanan dan kemanusiaan agar gerak dinamika menuju tujuannya selalu berada di
dalam kualitas kekhalifahannya. Pengertian “Mahasiswa” adalah golongan generasi
muda yang menuntut ilmu di perguruan tinggi yang mempunyai identitas diri.
Identitas diri mahasiswa terbangun oleh citra diri sebagai insan religius,
insan dimnamis, insan sosial, dan insan mandiri. Dari identitas mahasiswa
tersebut terpantul tanggung jawab keagamaan, intelektual, sosial
kemasyarakatan, dan tanggung jawab individual baik sebagai hamba Tuhan maupun
sebagai warga bangsa dan negara.
“Islam” yang terkandung dalam PMII adalah Islam sebagai agama
yang dipahami dengan haluan/paradigma ahlussunah wal jama’ah yaitu konsep
pendekatan terhadap ajaran agama Islam secara proporsional antara iman, islam,
dan ikhsan yang di dalam pola pikir, pola sikap, dan pola perilakunya tercermin
sikap-sikap selektif, akomodatif, dan integratif. Islam terbuka, progresif, dan
transformatif demikian platform PMII, yaitu Islam yang terbuka, menerima dan
menghargai segala bentuk perbedaan. Keberbedaan adalah sebuah rahmat, karena
dengan perbedaan itulah kita dapat saling berdialog antara satu dengan yang
lainnya demi mewujudkan tatanan yang demokratis dan beradab (civilized).
Sedangkan pengertian “Indonesia” adalah masyarakat, bangsa, dan
negara Indonesia yang mempunyai falsafah dan ideologi bangsa (Pancasila) serta
UUD 45.
Comments
Post a Comment